Tuesday, January 19, 2016

LAPORAN PENDAHULUAN PADA KLIEN DENGAN PERUBAHAN PERSEPSI PERSEPTUAL : HALUSINASI

LAPORAN PENDAHULUAN PADA KLIEN
DENGAN PERUBAHAN PERSEPSI PERSEPTUAL : HALUSINASI


I.      Kasus (Masalah Utama)
Perubahan persepsi perceptual:  halusinasi.
A.    Pengertian
Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik (Stuart & Sundenn, 1998).
 
B. Jenis – Jenis halusinasi
Ada beberapa jenis halusinasi, Stuart dan Laraia 1908 membagi halusinasi menjadi 7 jenis yaitu :
1.Halusinasi Pendengaran
Karakteristinya meliputi mendengar suara-suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien bahkan sampai ke percakapan  lengkap antara 2 orang atau lebih tentang orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh melakukan sesuatu yang kadang-kadang dapat membahayakan. 
2.Halusinasi Penglihatan
Karakteristiknya meliputi stimulus visual dalam bentuk kuatan cahaya, gambar geometrik, gambar kartoon, bayangan yang rumit atau kompleks, bayangan bisa menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.
3. Halusinasi Penghidu
Karakteristiknya meliputi membaui bau tertentu seperti bau darah, kemenyan atau faeces yang umumnya tidak menyenangkan.
4.Halusinasi Pengecapan
Merasa mengecap, seperti rasa darah, urine, dan faeces
5.Halusinasi Perabaan
Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan berupa stimulus yang jelas, rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang.
6.Halusinasi Cenesthesia
Dimana klien merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah vena atau arteri, pencernaan makanan atau pembentukan urine.



7. Halusinasi kinesthetik
Merasakan pergerakan sementara, berdiri tanpa bergerak 

Halusinasi berkembang menjadi 4 fase (Habes, dkk, 1902):
1.    Fase pertama (conforting)
          Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stres, perasaan yang terpisah, kesepian klien mungkin melamun atau memfokuskan pikiran pada hal yang menyenangkan untuk menglilangkan kecemasan dan stres. Cara ini menolong untuk sementara.
2.    Fase kedua (condeming)
     Pencemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal dan eksternal. Klien berada pada tingkat “ Listening” pada halusinasi. Pemikian internal menjadi menonjol. Gambaran suara dan sensasi halusinasi dapat berupa bisikan yang tidak jelas. Klien takut apabila orang lain mendengar dan klien tidak mampu mengontrolnya. Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi dengan memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari orang lain atau tempat lain. 
3.    Fase Ketiga
Halusinasi menonjol, menguasai dan mengontrol klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya pada halusinasinya. Halusinasi memberi kesenangan dan rasa aman yang sementara.
4.    Fase Keempat (conquerting)
Klien merasa terpaku dan tidak berdaya melepaskan diri dari kontrol halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarahi klien tidak dapat berhubungan dengan orang lain karena terlalu sibuk dengan halusinasinya. Klien mungkin berada dalam dunia yang menakutkan dalam waktu yang singkat, beberapa jam atau selamanya. Proses ini menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi.










II.      Proses Terjadinya Masalah
A.    Penyebab
Rangsangan primer dari halusinasi adalah kebutuhan perlindungan diri secara psikologik terhadap kejadian traumatik sehubungan dengan rasa bersalah, rasa sepi, marah, rasa takut ditinggalkan oleh orang yang dicintai, tidak dapat mengendalikan dorongan ego, pikiran dan perasaannya sendiri.
Klien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering didapatkan duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau berbicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain, gelisah, melakukan gerakan seperti menikmati sesuatu. Juga keterangan dari klien sendiri tentang halusinasi yang dialaminya (apa yang dilihat, didengar atau dirasakan)
B.     Tanda dan gejala
Tanda dan gejala dari halusinasi adalah :
-    berbicara dan tertawa sendiri
-    bersikap seperti mendengar dan melihat sesuatu
-    berhenti berbicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu
-    disorientasi
-    merasa ada sesuatu pada kulitnya
-    ingin memukul atau melempar barang - barang
C.    Akibat
Akibat dari halusinasi adalah resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Ini diakibatkan karena klien berada di bawah halusinasinya yang meminta dia untuk melakukan sesuatu hal di luar kesadarannya


B.     Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji
1.Masalah keperawatan
a. Risiko  tinggi kekerasan
b.Perubahan sensori perseptual : halusinasi
c. kerusakan interaksi Isolasi sosial : menarik diri
d.      harga diri rendah
e. intoleransi aktivitas
f. sindrom deficit perawatan diri: mandi/ kebersihan , berpakaian/ berhias.
2.Data yang perlu dikaji
a.Risiko tinggi kekerasan
1).    Data Subyektif :
§  Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
§  Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika    sedang kesal atau marah.
§  Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
2).    Data Objektif :
§  Mata merah, wajah agak merah.
§  Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai: berteriak, menjerit, memukul diri sendiri/orang lain.
§  Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
§   Merusak dan melempar barang‑barang.
b. Perubahan sensori perseptual : halusinasi
1)      Data Subjektif
a)      Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata
b)      Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata
c)      Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus
d)     Klien merasa makan sesuatu
e)      Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya
f)       Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar
g)      Klien ingin memukul/melempar barang-barang
2)      Data Objektif
a)      Klien berbicar dan tertawa sendiri
b)      Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu
c)      Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu
d)     Disorientasi



c.       Kerusakan Isolasi sosial : menarik diri
1)      Data Subyektif
Sukar didapat jika klien menolak komunikasi, kadang hanya dijawab dengan singkat ”tidak”, ”ya”.
2). Data Obyektif
Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul, menyendiri/menghindari orang lain, berdiam diri di kamar, komunikasi kurang atau tidak ada (banyak diam), kontak mata kurang, menolak berhubungan dengan orang lain, perawatan diri kurang, posisi tidur seperti janin (menekur)
d.        Harga diri rendah
1)                                                    Data Subyektif
Klien mengatakan tidak mau bergaul dengan orang lain.
2). Data Obyektif
Tidak bisa mengambil keputusan, menarik diri dari realitas, merusak diri, rasa bersalah dan khawatir
e.     Intoleransi aktivitas
1). Data subyektif
Klien mengatakan malas melakukan kegiatan
2). Data Obyektif
Klien tampak melamun
f.      sindrom deficit perawatan diri: mandi/ kebersihan , berpakaian/ berhias.
1)                                                                                                                            Data subyektif
Pasien mengatakan malas melakukan perawatan diri
2). Data Obyektif
Penampilan kurang bersih

IV.      Diagnosa Keperawatan


a.    Risiko  tinggi kekerasan
b.    Perubahan sensori perseptual : halusinasi
c.    kerusakan interaksi Isolasi sosial : menarik diri
d.   harga diri rendah
e.    intoleransi aktivitas
f.     sindrom deficit perawatan diri: mandi/ kebersihan , berpakaian/ berhias.




V.            Rencana Tindakan Keperwatan

Diagnosa keperawatan 1 : Risiko  tinggi kekerasan
A.    Tujuan umum :     
Klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
B.     Tujuan khusus :
1.Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
a. Salam terapeutik – perkenalan diri – jelaskan tujuan – ciptakan lingkungan yang tenag – buat kontrak yang jelas (waktu, tempat, topik)
b.Beri kesempatan mengungkapkan perasaan
c. Empati
d.                                                                                                      Ajak membicarakan hal-hal yang ada di lingkungan
2.Klien dapat mengenal halusinasinya
Tindakan :
a. Kontak sering dan singkat
b.Observasi tingkah laku yang terkait dengan halusinasi (verbal dan non verbal)
c. Bantu mengenal halusinasinya dengan menanyakan apakah ada suara yang didengar dan apa yang dikatakan oleh suara itu. Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu, tetapi perawat tidak mendengarnya. Katakan bahwa perawat akan membantu
d.                        Diskusi tentang situasi yang menimbulkan halusinasi, waktu, frekuensi terjadinya halusinasi serta apa yang dirasakan saat terjadi halusinasi
e. Dorong untuk mengungkapkan perasaan saat terjadi halusinasi
3.Klien dapat mengontrol halusinasinya
Tindakan :
a.Identifikasi bersama tentang cara tindakan jika terjadi halusinasi
b.Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien dan cara baru untuk mengontrol halusinasinya
c.Bantu memilih dan melatih cara memutus halusinasi : bicara dengan orang lain bila muncul halusinasi, melakukan kegiatan, mengatakan pada suara tersebut “saya tidak mau dengar”
d.Tanyakan hasil upaya yang telah dipilih/dilakukan
e.Beri kesempatan melakukan cara yang telah dipilih dan beri pujian jika berhasil
f.Libatkan klien dalam TAK : stimulasi persepsi




4.Klien dapat dukungan dari keluarga
Tindakan :
a.Beri pendidikan kesehatan pada pertemuan keluarga tentang gejala, cara, memutus halusinasi, cara merawat, informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan
b.Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

5.Klien dapat menggunakan obat dengan benar
Tindakan :
a.Diskusikan tentang dosis, nama, frekuensi, efek dan efek samping minum obat
b.Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara, waktu)
c..Anjurkan membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan
d.Beri reinforcement positif klien minum obat yang benar.

Diagnosa keperawatan 2 : Perubahan sensori perseptual : halusinasi
Tujuan Umum :
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi
A.    Tujuan Khusus  :
1.Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan:
a. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik dengan cara
b.sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
c. perkenalkan diri dengan sopan
d.                                                                              tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
e. jelaskan tujuan pertemuan
f. jujur dan menepati janji
g.tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
h.berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien

2.Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
Tindakan
a. Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya
b.Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri atau mau bergaul


c. Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab yang muncul
d.                              Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya

3.Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
Tindakan :
a. Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang lain
b.beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan prang lain
c. diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain
d.                        beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain

4.Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain
Tindakan
a. beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan dengan orang lain
b.diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
c. beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain

5.Klien dapat melaksanakan hubungan sosial
Tindakan
a.       kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
b.      dorong dan bantu kien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap :
-          K – P
-          K – P – P lain
-          K – P – P lain – K lain
-          K – Kel/Klp/Masy
  1. Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai
d.      Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan




e.       Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu
f.       Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
g.      Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan

6.      Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain
Tindakan
  1. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain
  2. Diskusikan dengan klien tentang perasaan masnfaat berhubungan dengan orang lain
  3. Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat berhubungan dengan orang lain.

7.      Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga
Tindakan
a.       Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :
-          salam, perkenalan diri
-          jelaskan tujuan
-          buat kontrak
-          eksplorasi perasaan klien
b.      Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
-          perilaku menarik diri
-          penyebab perilaku menarik diri
-          akibat yang terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi
-          cara keluarga menghadapi klien menarik diri
c.       Dorong anggota keluarga untukmemberikan dukungan kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain
d.      Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal satu kali seminggu
e.       Beri reinforcement positif positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga

Diagnosa keperawatan 3: kerusakan interaksi social : menarik diri
1.      Tujuan Umum :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal






2.      Tujuan khusus :
a.       Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1)      Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terpeutik
2)      Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan :
-       Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
-       Setiap bertemu klien hindarkan dari penilaian negatif.
-        Utamakan memberi pujian yang realistik.

b.      Klien dapat menilai kemampun yang dimiliki
Tindakan :
-       Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit
-       Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkn penggunaannya.

c.       Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampun yang dimiliki
Tindakan :
-            Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
-            Tingkatkan kegiatan sesuai toleransi kondisi klien
-            Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
d.      Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuannya
Tindakan :
-       Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
-       Beri pujian atas keberhasilan klien
-       Diskusikan kemungkinan pelaksanan di rumah

e.       Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan :



-       Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat  klien dengan harga diri rendah
-       Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat
-       Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.

Diagnosa keperawatan 4 : harga diri  Rendah
Tujuan Umum :
Klien mampu mempertahankan diri pada konsep diri positif
a.                                 Tujuan khusus 1
Klien dapat mengenal masalahnya, penyebab ideal diri tidak tercapai.
Intervensi :
Ø  Beri bimbingan keluarga untuk menghargai kemampuan dimana segi positif
Rasional : meningkatkan harga diri.
Ø Identifikasi bersama klien terhadap perilaku yang maladaptif
Ø Diskusikan dengan klien cara memecahkan masalah.

b.                            Tujuan Khusus 2
Klien mampu mengenal harapan nyata dan tidak nyata.
Intervensi :
Ø  Dorong klien untuk mengungkapkan harapan yang dimiliki
Ø  Beri tanggapan dan mendengarkan harapan klien
Ø  Diskusikan pada klien harapan yang bisa diraih.
Ø  Alihkan kemampuan yang tidak sesuai dengan hoby.

Diagnosa keperawatan 5:
 sindrom deficit perawatan diri: mandi/ kebersihan ,                                         berpakaian/ berhias.
Tujuan umum : klien mampu melakukan perawatan diri: higioene.

a.       Tujuan khusus:
1.    Klien dapat menyebutkan pengertian dan tanda‑tanda kebersihan diri
Tindakan :
a.Diskusikan bersama klien tentang pengertian bersih dan tanda‑tanda bersih
b.  Beri reinforcement positif bila klien mampu melakukan hal yang positif.

2.    Klien dapat menyebutkan penyebab tidak mau menjaga kebersihan diri
Tindakan :
a. Bicarakan dengan klien penyebab tidak mau menjaga kebersihan diri
b. Diskusikan akibat dari tidak mau menjaga kebersihan diri




3.      Klien dapat menyebut higiene
Tindakan:
a.  Diskusikan bersama klien tentang manfaat higiene
b. Bantu klien mengidentifikasikan kemampuan untuk menjaga kebersihan diri

4.      Klien dapat menyebutkan cara menjaga kebersihan diri
Tindakan:
a.Diskusikan dengan klien cara menjaga kebersihan diri: andi 2x sehari (pagi dan sore) dengan memakai sabun mandi, gosok gigi minimal 2x sehari dengan pasta gigi, mencuci rambut minimal 2x seminggu dengan sampo, memotong kuku minimal 1x seminggu, memotong rambut minimal 1 x sebulan.
b.   Beri reinforcement positif bila klien berhasil

5.      Klien dapat melaksanakan perawatan diri higiene dengan bantuan minimal
Tindakan:
a. Bimbing klien melakukan demonstrasi tentang cara menjaga kebersihan diri
b. Dorong klien untuk melakukan kebersihan diri dengan bantuan minimal

6.      Klien dapat melakukan perawatan diri higiene secara mandiri
Tindakan:
a.Beri kesempatan klien untuk membersihkan diri secara bertahap
b.Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya setelah membersihkan  
   diri
c  Bersama klien membuat jadwal menjaga kebersihan diri
d.Bimbing klien untuk melakukan aktivitas higiene secara teratur

7.      Klien mendapat dukungan keluarga
Tindakan:
a.Beri pendidikan kesehatan tentang merawat klien untuk kebersihan diri melalui pertemuan keluarga
b Beri reinforcement positif atas partisipasi aktif keluarga
















DAFTAR PUSTAKA

Aziz R, dkk, 2003,Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino Gonohutomo

Keliat Budi Ana,1999 ,Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC

Stuart GW, Sundeen,1995, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC

Tim Direktorat Keswa, 2000. Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung










No comments:

Post a Comment